Keluar dari Kantor Pajak Merintis Bisnis dan Karier Politik


Lebih Dekat Denagan Elang (4).

Tahun 1993, saat kantor Direktorat jenderal pajak melakukan komputerisasi, semua pegawai laki – laki dipindahkan ke luar jawa, dan Kusnandar di tempatkan di Ternate. Meski jauh dari kejuarga, namun Elang Kusnandar Prijadikusuma tetap ingat kepada adik -adiknya. Satu persatu adiknya itu ia bantu biaya pendidikannya hingga selesai sesuai dengan minatnya masing – masing.
Sebagai PNS di Derektorat Jenderal Pajak, Kusnandar di tuntut untuk loyal kepada kantor dan atasannya. Hal itu sebenarnya tidak masalah bagi dirinya, asalkan apa yang di perintahkan atasan tidak bertentangan dengan hati nuraninya.”saya paling tidak busa jika atasan meminta saya untuk memanipulasi apakah wajib pajak ataukah kewajiban wajib pajak, yang harusnya berapa minta turun jadi berapa, misalnya. Saya selalu menolaknya, “tutur Kusnandar.
“Apalagi zaman segitu belum ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi, red), jadi jangan heran kalau Gayus bisa cepat kaya,” katanya.
Kondisi itu, menurut Kusnandar, ada di depan matanya. sementara sebagai bawahan dari sebuah birokrasi ia dituntut untuk mematuhi perintah atasan.”Hal yang paling menyakitkan bagi saya adalah saat masih kuliah saya sempat praktek kerja lapangan, disitu saya melihat ketaatan masyarakat kecil dalam membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) mwski ia bayar dengan uang receh. Namun mereka sangat taat padahal mereka bukan orang kaya. Sangat berbeda dengan pemilik jalan tol pada saat itu yang tidak membayar pajak PBB jalan tolnya seolah tanpa dosa,”tandas Kusnandar.
Karena merasa sering terjadi perang batin dan demi menjaga kondusifitas kantor tempatnya bekerja, tahun 1998, saat gelombang reformasi bergulir, Kussnandar akhirnya mengajukan berhenti dari kantor derektorat pajak. Dengan berat hati ia meninggalkan apa yang telah ia perjuangkan demi sebuah ketentraman batin.
Suasana menjelang reformasi saat itu, dimana nilai tukar rupiah terhadap dolar ambruk, membuat sebagian sektor ekonomi turut bergairah. Salah satu yang ikut bergairah pada saat itu adalah ekspor ikan seperti ikan kakap dan kerapu. bersama teman – temennya, Kusnandar berbisnis ekspor ikan kerapu untuk dikirim ke Hongkong dan negara – negara Eropa. Bisnisnys terbilang sukses, hingga satu kali pengiriman tidak kurang dari dua ton ikan kerapu dapat di ekspor oleh Kusnandar.
Namun konflik Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA) yang melanda maluku utara pada tahun1999 telah memakan banyak sekali korban dan menghancur leburkan semua infrastruktur seperti sarana ibadah dan bangunan pemerintah serta milik pribadi, suana konflik yang tidak kunjung usai membuat bisnis yang di bangun Kusnandar dan temen – temennya terpaksa terhenti, bahkan tidak sedikit yang terpaksa mengungsi karena merasa terancam keselamatannya.”Saya menjadi saksi konflik yang terjadi. Istri dan anak terpaksa saya pulangkan ka Jawa sementara saya tetap tinggal disana (Ternate- red),”ujarnya.
Kusnandar yakin konflik yang timbul tidak akan menyeretnya secara langsung karena dirinya bukan bagian dari konflik. Bagi Kusnandar, sebagai pribumi Cirebon yang karena tugas harus berada di Maluku Utara, konflik tersebut tidak akan menyeret dirinya, namun ia tetap berhati – hati dalam melangkah agar sebagai pendatang keberadaanya dapat diterima oleh kedu belah pihakyang tengah bertikai.
Masuk Partai Politik
Arus kebebasan berkumpul dan berserikat yang digulirkan para mahasiswa saat reformasi memunculkan lahirnya partai – partai politik baru. Salah satu partai yang lahir pada masa itu adalah Partai Keadilan. Partai yang didukung para aktivis dakwah kampus ini menarik perhatian Kusnandar.
Setelah menelaah platform serta visi dan misi Partai Keadilan, tahun 1999 Kusnandar memutuskan untuk bergabung dengan partai berlambang dua bulan sabit dalam Kabah itu.”Saya langsung diamanahi sebagai ketua DPD Partai Keadilan Kabupaten Maluku Utara. sejak saat itu saya aktif di partai politik,”tuturnya.
Pemilu tahun1999 Partai Keadilan Kabupaten Maluku Utara mendapatkan satu kursi di DPRD Maluku Utara, sebagai calon legislatif nomor urut satu, sebenarnya ia sudah terpilih pada saat itu, namun karena ingin membangun dan membesarkan partai ia lebih memilih untuk di sturtur dan mendorong wakil ketua DPD-nya untuk menjadi anggota legislatif. (Bersambung………..)
Sumber : Harian Fajar Cirebon Edisi kamis, 31 Mei 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *